10 Cara Menghadapi Suami Egois dan Pemarah

Ilustrasi cara menghadapi suami egois

Menghadapi suami egois dan pemarah tentunya tidaklah mudah. Terlebih bagi Anda, wanita yang memiliki perasaan lembut, pastinya sangat tidak nyaman menghadapi pertengkaran setiap hari.

Tapi mau bagaimana lagi? Itulah kondisi yang harus Anda hadapi sekarang. Mungkin dulu, saat masih perkenalan sikap suami Anda begitu baik. Ya, itu sangatlah wajar.

Namun ketika sudah menikah cukup lama, biasanya watak asli suami akan terlihat dengan sendirinya. Jika dia seorang berwatak keras dan mudah emosional, pastinya bakal sering marah-marah. Jika sudah begitu, Anda sebagai istri haruslah menyiapkan mental sekuat baja.

Tak hanya itu, Anda pun perlu tahu cara menyikapi suami yang seperti itu. Untuk membantu Anda, berikut ini 10 cara menghadapi suami egois dan pemarah.

1. Sabar dan Ikhlas, Dua Kunci Penting Menghadapi Suami Pemarah

Begini, ketika Anda sudah berada dalam ikatan pernikahan dengan suami yang keras kepala, maka satu-satunya cara untuk bisa bertahan, Anda harus sabar dan ikhlas.

Segala sikapnya yang sering membuat Anda kesal, sebaiknya jangan terlalu ditanggapi. Terima saja semua itu dengan lapang dada. Bagaimanapun juga, dia tetaplah suami Anda. Sosok yang menafkahi keluarga.

Loading...

Jadi, usahakan tetap memberikan pelayanan terbaik . Walau bukan demi dia, lakukan semata-mata untuk memenuhi kewajiban Anda sebagai seorang istri.

Jika Anda tahu, sungguh pahala istri yang melayani suami itu amatlah besar di sisi Tuhan. Termasuk, menyiapkan makan, mencuci piring dan baju, dan memberikan nafkah batin. Apapun itu, kebaikan Anda tidak akan sia-sia.

2. Jangan Ikut-Ikutan Menjadi Pemarah

Menghadapi suami egois dan pemarah tidak bisa dibalas dengan amarah juga. Sebaliknya, Anda harus membalasnya dengan perlakuan yang lembut. Layaknya sebuah api yang disiram oleh air dingin, pastilah akan padam.

Jika dia marah, jangan ikut-ikutan emosi. Sekalipun Anda benar-benar merasa jengkel, coba pendam terlebih dahulu. Akan lebih baik jika Anda diam.

Begitupun saat beradu argumen, suami egois pastinya tak mau kalah. Dia akan menganggap hanya pendapatnya yang benar. Daripada Anda menghabiskan waktu berdebat dan ujung-ujungnya malah bikin ribut, mending biarkan saja dia berbuat semaunya.

Yang terpenting, Anda sudah memberitahu. Anda tidak perlu memaksanya. Cukup mengingatkan saja.

3. Berikan Perhatian Lebih

Seperti yang telah dijelaskan di poin sebelumnya, bahwa untuk menghadapi suami egois itu bukannya dengan kekerasan. Melainkan dengan kelembutan.

Mungkin saja, suami bersikap suka marah begitu karena kurang perhatian. Mungkin Anda terlalu sibuk dengan anak-anak. Jadi mulai sekarang, coba deh berikan perhatian lebih pada suami.

Sebagai contoh, dia berhasil melakukan sesuatu, maka berikan pujian. Lalu saat dia ada masalah, cobalah membantu mencari solusi. Atau ketika dia curhat tentang kehidupannya di kantor – sepele apapun itu, pura-pura saja tertarik dan berikan tanggapan yang baik.

Dengan begitu, suami juga akan semakin percaya Anda. Dan itu bisa menjadi alat untuk meluluhkan hatinya.

4. Belajarlah untuk Mengalah

Mengalah adalah salah satu cara yang bisa Anda lakukan untuk menghindari konflik dengan suami yang egois. Kenapa harus mengalah?

Karena suami egois itu keras kepala. Ia susah menerima saran dari orang lain. Sekalipun dia jelas-jelas salah, tetap saja dia tidak mau mengakui. Dia juga pandai bersilat lidah. Mencari-cari alasan guna membenarkan perilakunya.

Oleh sebab itu, daripada Anda capek-capek berdebat dan tidak didengarkan, lebih baik Anda mengalah saja.

5.  Jangan Takut Memberikan Pendapat, Tidak Masalah Walau Tak Didengar

Meskipun istri bukanlah pemimpin dalam rumah tangga, namun istri tetap memiliki hak untuk mengeluarkan pendapat.

Oleh sebab itu, Anda jangan takut berpendapat. Sekalipun suami Anda egois dan keras kepala, Anda tetap wajib memberitahu bila memang ada yang perlu disampaikan.

Anda tidak boleh berdiam diri saja, membiarkan suami bertindak sesuatu yang salah. Itu malah bisa merugikan rumah tangga kalian. Jadi lebih baik dinasehati.

Kalaupun pada akhirnya dia masa bodoh atau cuek, dalam artian nggak mau mendengarkan nasehat Anda, ya sudah biarkan saja. Yang penting Anda sudah mengingatkan.

Terkadang orang egois memang tidak mempan bila dinasehati lewat perkataan. Dia harus merasakan akibat dari perbuatannya sendiri, barulah nanti kesadarannya bisa tumbuh.

6. Ungkapkan Apa yang Anda Rasakan

Ilustrasi mengungkapkan unek-unek pada suami

Memendam sesuatu secara terus-menerus itu tidaklah baik. Apalagi memendam hal-hal buruk di dalam hati. Apapun itu yang membuat Anda sedih, bila dipendam terus maka akan memicu stres. Bahkan merusak diri Anda sendiri.

So, daripada memendam terlalu lama, lebih baik Anda ungkapkan saja unek-unek di hati Anda. Mengungkapkan unek-unek bukan berarti marah-marah. Namun lebih pada curhat.

Anda bisa mencari momen yang tepat, saat suami lagi santai. Coba dekati ia, lalu ungkapkan segala hal yang Anda rasakan.

Katakan bahwa Anda merasa terbebani dengan sikap dia yang pemarah dan egois. Utarakan bahwa Anda sering menangis diam-diam. Katakan bahwa Anda mencintai dia dengan tulus dan berharap disayangi juga.

Katakan semuanya dengan jujur! Ya, mungkin dengan begitu hati suami Anda akan luluh dan dia mau berubah karena melihat ketulusan Anda.

7. Jika Memang Benar, Anda Punya Hak Membela Diri

Untuk menghadapi suami egois memang kadang diperlukan sikap mengalah. Tapi mengalah pun juga ada batasnya.

Apabila Anda merasa diri Anda benar, ya jangan mau disudutkan terus. Anda punya hak untuk membela diri.

Sekalipun dia nggak peduli dengan pembelaan Anda, tak ada salahnya Anda mengungkapkan kebenaran. Setidaknya dengan begitu, Anda bisa merasa lega.

8. Jangan Takut, Tapi Juga Jangan Bersikap Kurang Ajar

Memiliki suami yang sikapnya gampang marah-marah dan egois, memang terkadang bikin takut. Bagaimana tidak, dia susah diajak berbicara dan juga mudah emosional. Wanita mana sih yang nggak sedih diperlakukan demikian?

Pastinya sedih ya! Bahkan mungkin takut.

Namun sebaiknya, hindari deh sikap takut kepada suami yang pemarah dan egois. Kenapa? Karena semakin Anda takut, maka dia akan semakin semena-mena dengan Anda. Sebab dia tahu Anda lemah, jadi dia merasa bebas melakukan apapun.

Sebenarnya, selama Anda tidak bersalah, maka Anda tidak perlu takut! Lakukan kewajiban Anda sebagai seorang istri. Hormati dia, jangan bersikap kurang ajar.

Namun sekali lagi, jangan takut! Berperilakulah sewajarnya saja. Ada saatnya Anda diam, dan ada saatnya Anda berbicara.

9. Perbanyak Berdoa dan Mendekatkan Diri dengan Tuhan

Poin yang satu ini sangatlah penting. Berdoa dan mendekatkan diri kepada Tuhan bisa menjadi cara menghadapi suami egois yang paling ampuh.

Doakan saja supaya dia bisa berubah menjadi suami yang baik dan bijaksana. Keluarkan segala keluh kesah Anda kepada Tuhan. Mintalah petunjuk dan pertolongan dari-Nya.

Anda harus percaya bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya menderita. Dia pasti akan membantu Anda! Maka itu, jangan pernah lelah untuk berdoa.

10. Jika Sudah Tidak Kuat, Lebih Baik Diskusikan dengan Keluarga

Ketika perilaku suami Anda sudah kelewat batas dan enggak bisa ditoleransi, hingga Anda merasa sudah tak sanggup lagi, maka satu-satunya solusi yang bisa Anda tempuh adalah mendiskusikannya dengan keluarga.

Memang sebaiknya, urusan rumah tangga Anda tidak melibatkan keluarga besar. Tapi jika toh udah nggak ada jalan keluar, maka Anda bisa melakukan hal itu. Meminta pertolongan kepada orang tua untuk menyelesaikan masalah Anda.

Dengan begitu, setidaknya Anda tidak perlu menanggung beban sendirian lagi. Bercerita kepada keluarga bisa membuat Anda merasa lebih lega.

Penutup

Kesimpulannya, untuk menghadapi suami egois dan pemarah, Anda perlu menyiapkan kesabaran tanpa batas. Sebisa mungkin jangan membalas amarah dengan amarah, tapi berikan dia lebih banyak cinta.

Selama dia tidak melakukan kekerasan fisik (ringan tangan) atau hal merugikan lainnya, maka cobalah untuk tetap menjaga rumah tangga kalian. Namun jika Anda sudah tak sanggup menahannya lagi, coba tanyakan pada hati Anda, seberapa pantas ia untuk dipertahankan?

Loading...

Artikel Terkait